Persaingan kiper utama PSG kembali memanas setelah hasil buruk di Ligue 1. Tekanan pada Matvei Safonov meningkat pasca kekalahan 1-2 dari AS Monaco di kandang sendiri. Kekalahan ini membuat PSG gagal meraih kemenangan dalam tiga laga awal musim.
Insiden gol kemenangan Monaco menjadi sorotan utama atas penampilan Safonov. Posisinya saat mencoba mengantisipasi tembakan dinilai kurang tepat oleh pengamat. Akibatnya, kiper asal Rusia itu mulai dipandang sebagai titik lemah skuad Luis Enrique.
PSG meluncurkan koleksi Timeless dengan logo vintage era 1992-1996. Koleksi ini hadirkan berbagai produk fashion dengan harga mulai 26 hingga 71 euro.
Read MoreBayern Munich membuka peluang melepas Michael Olise di musim panas mendatang. Real Madrid dan PSG disebut-sebut sebagai peminat pemain Prancis itu.
Read MoreSeluruh lini belakang PSG memang tampak rapuh dalam beberapa pertandingan terakhir. Namun, Safonov dianggap sebagai mata rantai terlemah dalam skema pertahanan tim. Situasi ini memicu perdebatan sengit di kalangan suporter dan media Prancis.
"Gelandang raksasa Krasnodar" kini menjadi bulan-bulanan kritik setelah gagal menjaga gawangnya perawan. Ia gagal mengulangi performa apiknya saat membantu PSG meraih gelar juara musim lalu. Kini, posisinya mulai terancam oleh kiper cadangan.
Chevalier Menunggu di Sayap
Situasi ini menjadi peluang emas bagi Lucas Chevalier untuk kembali merebut tempat utama. Kiper berusia 24 tahun itu belum tampil dalam laga kompetitif sejak Januari lalu. Penampilan terakhirnya terjadi saat adu penalti melawan Marseille di ajang Trophee des Champions.
Meski jarang bermain, Chevalier tetap menjadi bagian dari skuad utama PSG musim ini. Ia diklaim siap tampil dan merebut kembali posisi yang pernah menjadi miliknya. Persaingan antara kedua kiper ini bukan hal baru di era kepemilikan QSI.
Luis Enrique sebelumnya pernah menunjukkan keberanian dengan menepikan Gianluigi Donnarumma. Kini, ia kembali dihadapkan pada pilihan sulit terkait siapa kiper utama timnya. Rotasi kiper kerap terjadi di bawah kepemimpinan pelatih asal Spanyol tersebut.
Kembalinya Chevalier ke starting XI akan menjadi perubahan signifikan dalam hierarki tim. Ia sudah siap secara mental dan fisik untuk mengisi posisi di bawah mistar gawang. Peluang ini mungkin menjadi titik balik karirnya di PSG.
Enrique Tetap Bela Tim
Meski mendapat tekanan, Luis Enrique tetap membela performa timnya di depan publik. Ia menilai hasil buruk tidak mencerminkan kualitas permainan yang ditunjukkan para pemain. Keyakinannya tetap tinggi terhadap proses yang sedang berjalan di skuadnya.
"Saya senang dengan apa yang saya lihat," ujar Enrique usai kekalahan dari Monaco. "Ini baru awal musim. Kami belum di performa terbaik, tapi kami pantas menang dalam pertandingan ini," tegasnya. Pernyataan ini menunjukkan rasa percaya dirinya terhadap anak asuhnya.
Pelatih asal Spanyol itu juga menyoroti aspek mental dari skuadnya saat ini. Ia menjelaskan bahwa sepak bola kadang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Enrique memuji mentalitas pemain dan yakin musim ini akan berjalan menarik.
Krisis ini datang pada waktu yang tidak tepat bagi PSG. Klub baru saja mengumumkan perpanjangan kontrak penting bagi pelatih dan pemain kunci. Proyek klub dibangun di atas stabilitas, namun masalah kiper mengancam kemajuan yang telah dicapai.
Penurunan performa Safonov mengakhiri masa bulan madu setelah kontribusinya membawa PSG meraih gelar juara. Kini, ia harus membuktikan diri bahwa ia layak menjadi kiper nomor satu. Saat PSG bersiap menghadapi Slovan Bratislava di Eropa, pilihan kiper Enrique menjadi penentu.
Allez Paris
Submit Comment