|

Tuduhan Manchester City dan Risiko Hukuman Fair Play Finansial

Stadion Etihad markas Manchester City saat pertandingan Premier League berlangsung

Stadion Etihad markas Manchester City saat pertandingan Premier League berlangsung

Manchester City dinyatakan bersalah atas hampir seluruh 115 pelanggaran fair play finansial pada Jumat. Premier League resmi menuduh klub tersebut sejak Februari 2023. Kasus ini menjadi salah satu proses hukum terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

Tuduhan utama menyoroti penggelembungan pendapatan klub secara artifisial. City disebut menyembunyikan pengeluaran sebenarnya untuk menghindari aturan fair play finansial. Klub dituduh membangun dinasti juara di atas dasar pelanggaran aturan.

ALSO READ

Kontrak Erling Haaland di Manchester City tidak memuat klausul pembebasan jika klub terdegradasi. Ia terikat hingga 2034 meski klub terjerat 115 pelanggaran.

Read More

Rayan Cherki tampil impresif bersama Manchester City dengan 4 gol dan 2 assist. Ia kini bergabung dengan timnas Prancis asuhan Zinedine Zidane.

Read More

The Times melaporkan dakwaan berfokus pada kontrak sponsorship buatan. Ada 50 pelanggaran terkait pendapatan antara 2009 hingga 2018. Sebagian besar dana sponsor diduga berasal langsung dari Abu Dhabi United Group.

Kasus Etisalat menjadi contoh paling jelas dalam dakwaan. Dari kontrak senilai 19,5 juta euro, sponsor hanya membayar sekitar 1,8 juta euro. Sisa lebih dari 17,6 juta euro diduga disuntikkan ADUG secara diam-diam.

Skema Sponsoring dan Gaji Tersembunyi

Stadion Etihad markas Manchester City saat pertandingan Premier League berlangsung

Pola serupa terjadi pada maskapai Etihad. Perusahaan itu hanya membayar 9,4 juta euro untuk kontrak bernilai 41 juta hingga 80 juta euro. Selisih pembayaran diduga ditutup oleh pihak lain di balik klub.

City juga dituduh mengalihkan sebagian beban gaji ke pihak luar. Ada delapan tuduhan terkait remunerasi Roberto Mancini antara 2009 dan 2013. Kontrak resminya mencatat gaji dasar sekitar 1,7 juta euro per tahun.

Mancini diduga menerima tambahan 2 juta euro per tahun lewat pekerjaan fiktif sebagai konsultan Al-Jazira. Pekerjaan itu hanya menuntut empat hari kerja setiap tahun. Dana tersebut mengalir melalui perusahaan cangkang sebelum masuk ke rekeningnya.

Skema serupa juga menjerat sejumlah pemain terkait hak citra. Dokumen mengungkap pembayaran 4 juta euro dan 4,7 juta euro kepada agen Yaya Toure. Pembayaran itu diduga dikirim melalui perusahaan lepas pantai.

Risiko Hukuman bagi Manchester City

Tiga puluh tuduhan menilai City menolak bekerja sama selama proses investigasi. Klub disebut tidak menanggapi permintaan dokumen dengan alasan kerahasiaan. Sikap ini pernah membuat klub didenda 10 juta euro oleh Tribunal Arbitrase Olahraga pada 2020.

Hukuman yang mungkin dijatuhkan sangat beragam. Pengurangan poin besar bisa memicu degradasi otomatis ke divisi bawah. Skenario terburuk mencakup pengeluaran dari liga, denda rekor, dan larangan transfer.

Pencabutan gelar juara juga masuk dalam pembahasan. Gelar 2012, 2014, dan 2018 disebut paling berisiko dicabut secara hukum. Namun proses ini dinilai rumit dan masih menjadi perdebatan panjang.

Sejumlah pengamat menilai hukuman berat belum tentu terjadi. Opsi denda besar atau peringatan resmi tetap mungkin diambil. Semua pihak menunggu keputusan akhir dalam beberapa pekan ke depan.

Submit Comment