|

Safonov Puji Luis Enrique, Kunci Sukses Jadi Kiper Utama PSG

Matvey Safonov kiper utama PSG saat melakukan selebrasi di pertandingan Ligue 1

Matvey Safonov kiper utama PSG saat melakukan selebrasi di pertandingan Ligue 1

Kiper utama PSG, Matvey Safonov, memuji peran pelatih Luis Enrique dalam kariernya. Safonov mengaku berkembang pesat secara psikologis, fisik, dan taktik bersama pelatih asal Spanyol itu. Tanpa Luis Enrique, Safonov yakin dirinya tidak akan menjadi kiper seperti sekarang.

Safonov tiba di PSG pada musim panas 2024 sebagai pelapis Gianluigi Donnarumma. Setelah Donnarumma pindah ke Manchester City, Lucas Chevalier mengambil posisi kiper utama. Cedera pergelangan kaki Chevalier pada November 2025 membuka jalan bagi Safonov untuk menjadi andalan di bawah mistar gawang.

ALSO READ

PSG kalah 1-2 dari Monaco di Parc des Princes. Hasil ini membuat PSG tanpa kemenangan dalam tiga laga perdana Ligue 1 2026/2027.

Read More

PSG disebut tertarik mendatangkan Julian Alvarez dari Atletico Madrid di bursa transfer musim dingin. Atletico meminta 150 juta euro untuk sang pemain.

Read More

Kiper Rusia itu mengaku sempat merasakan stagnasi sebelum bergabung dengan PSG. Kedatangan ke Paris memberikan energi baru dan prospek perkembangan yang fantastis. Safonov menyebut musim pertamanya sangat kaya pengalaman meski hanya menjadi cadangan.

Safonov mengungkapkan perasaannya tentang Arc de Triomphe sebagai tempat favorit di Paris. Ia pertama kali melihat monumen itu pada hari penandatanganan kontrak dengan PSG. Safonov mengaku terkesan dengan kemegahan Arc de Triomphe dan sering mengunjunginya saat musim semi.

Belajar Bahasa Prancis dan Hubungan dengan Luis Enrique

Matvey Safonov kiper utama PSG saat melakukan selebrasi di pertandingan Ligue 1

Belajar bahasa Prancis menjadi hobi utama Safonov di samping menyempurnakan bahasa Inggris. Ia mengaku kesulitan membedakan penggunaan "le" dan "la" karena perbedaan gender kata dalam bahasa Rusia. Safonov bahkan menggunakan trik lucu di toko roti dengan memesan dua baguette untuk menghindari kesalahan tata bahasa.

Safonov menegaskan bahwa belajar bahasa lokal adalah bentuk rasa hormat terhadap kota dan klub. Ia telah tinggal di Paris selama dua tahun dan terus mengambil kursus bahasa Prancis. Kiper berusia 27 tahun itu menganggap penguasaan bahasa memudahkan segala urusan sehari-hari.

"Luis Enrique sangat banyak membantu saya. Musim pertama saya sangat kaya meski hanya cadangan, itu pengalaman langka. Musim kedua berbeda tetapi sama-sama memperkaya," ujar Safonov kepada Le Parisien. Ia mengakui perjuangan psikologis berat saat Lucas Chevalier direkrut dan menjadi kiper utama. Safonov duduk di bangku cadangan selama tiga hingga empat bulan atau sekitar 20 pertandingan.

Safonov mengaku beruntung bertemu Luis Enrique di momen tepat kariernya. Pelatih asal Spanyol itu membawa perubahan mendalam pada diri Safonov. Kiper Rusia itu menegaskan tanpa Luis Enrique, dirinya tidak akan menjadi kiper seperti sekarang.

Kekuatan Safonov dalam Adu Penalti

Safonov menganggap adu penalti sebagai pertarungan psikologis yang menarik. Ia menghabiskan banyak waktu menganalisis kebiasaan penendang melalui video. Kiper PSG itu terkenal dengan catatan analisis penalti yang ditulis di handuk.

Safonov mengaku menjadikan analisis penalti sebagai permainan yang menyenangkan. Di Rusia, ia sering bertanya kepada penendang tentang rencana arah tendangan setelah pertandingan. Latihan mental itu membantunya menguji ketepatan membaca permainan.

Kiper Rusia itu menolak menyebut satu kiper terbaik sepanjang masa karena sepak bola terus berubah. Permainan semakin cepat dan aturan berubah setiap tahun. Safonov percaya setiap kiper harus terus beradaptasi dan memperbarui diri.

Safonov mengamati banyak kiper dan mengambil inspirasi dari berbagai sosok. Baginya, kiper ideal bukanlah satu orang melainkan gabungan dari banyak hal. Ia menekankan pentingnya kerja keras dan reinvensi di setiap latihan.

Submit Comment